Dunia Headline

Pertemuan Trump–Xi di Korea Selatan: Arah Baru Perdagangan Global

Momen pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping dalam G20 di Osaka, Jepang (29/06/2025). (Sumber: REUTERS/KevinLamarque)

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Sejumlah perusahaan global tengah menaruh perhatian besar pada pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung di Korea Selatan pada Kamis (30/10).

Pertemuan ini diperkirakan akan menentukan arah hubungan ekonomi dua kekuatan terbesar dunia yang selama ini terjebak dalam perang dagang dan teknologi. 

Sejak perang dagang antara AS dan Tiongkok, berbagai sektor strategis seperti teknologi, energi, dan pertanian menghadapi ketidakpastian akibat kebijakan tarif dan pembatasan ekspor. 

Oleh karena itu, dunia usaha kini menantikan sinyal positif dari pertemuan Trump–Xi yang diharapkan bisa membuka kembali ruang negosiasi dan menstabilkan rantai pasok global.

Industri Semikonduktor Jadi Fokus Utama

Dalam konteks ini, pemerintah Amerika Serikat dan Tiongkok menempatkan sektor semikonduktor sebagai salah satu fokus utama dalam pembahasan. 

Perusahaan chip besar seperti Nvidia, Advanced Micro Devices (AMD), dan Intel secara aktif memantau hasil pertemuan Trump–Xi untuk menentukan apakah mereka masih dapat mengekspor chip kecerdasan buatan (AI) berteknologi tinggi ke Tiongkok. 

Selain itu, Broadcom dan Marvell Technology juga menunggu kejelasan kebijakan baru dari Washington yang akan langsung memengaruhi kegiatan produksi dan penjualan chip mereka di pasar global.

Isu ini menjadi semakin penting karena pemerintah AS telah memperketat kontrol ekspor terhadap komponen dan material penting yang digunakan dalam pembuatan semikonduktor. 

Kebijakan tersebut menekan perusahaan Tiongkok dan mempersulit mereka dalam mengakses teknologi yang diperlukan untuk membangun industri chip domestik yang mandiri.

Perdagangan Energi AS dan Tiongkok

Sejak Tiongkok memberlakukan kebijakan tarif 15% terhadap ekspor gas alam cair (LNG) asal AS pada Februari lalu, arus perdagangan energi kedua negara nyaris berhenti total. 

Sebelum kebijakan tarif itu berlaku, Tiongkok tercatat menyerap sekitar 6% dari total ekspor LNG Amerika Serikat pada 2024. 

Namun, setelah pembatasan diberlakukan, perusahaan-perusahaan energi Tiongkok mulai mengalihkan sebagian besar pasokan LNG dari AS ke pasar Eropa, langkah yang secara langsung menekan harga energi di tingkat global.

Sementara itu, pemerintah AS juga menghentikan ekspor minyak mentah ke Tiongkok setelah Beijing menerapkan tarif 10% terhadap komoditas tersebut. 

Penerapan kebijakan tersebut mengakibatkan volume ekspor minyak AS ke Tiongkok anjlok tajam menjadi sekitar 150.000 barel per hari sepanjang 2024, atau turun 42% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pembatasan Ekspor Perangkat Lunak

Berbagai perusahaan global kini memantau dengan cermat langkah pemerintahan Trump terkait rencana pembatasan ekspor produk perangkat lunak asal AS ke Tiongkok. 

Pemerintah AS diperkirakan akan segera memutuskan apakah akan melanjutkan kebijakan tersebut sebagai bagian dari strategi untuk memperketat kontrol teknologi terhadap Beijing.

Jika kebijakan ini diterapkan, Washington akan menegaskan ancaman Trump untuk melarang ekspor “perangkat lunak penting” dengan membatasi pengiriman produk asal AS.

Langkah ini bisa mengganggu perdagangan internasional, karena banyak produk seperti mesin jet General Electric dan mobil Toyota yang bergantung pada software buatan AS untuk fitur keselamatan. 

Perusahaan perangkat lunak desain chip seperti Cadence Design Systems dan Synopsys juga terancam terdampak langsung oleh kebijakan tersebut.

Peluang dan Risiko Asia Tenggara

Pertemuan antara Donald Trump–Xi Jinping tidak hanya berimplikasi bagi AS dan Tiongkok, tetapi juga bagi berbagai negara lain, termasuk kawasan Asia Tenggara. 

Hasil pembicaraan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia akan menentukan arah stabilitas perdagangan global dan keseimbangan geopolitik di Asia.

Negara-negara ASEAN, seperti Indonesia, Vietnam, dan Malaysia, menilai ketegangan antara AS dan Tiongkok sebagai peluang untuk memperkuat posisi ekonomi regional. 

Perusahaan-perusahaan Amerika dan Jepang yang berupaya mengurangi ketergantungan pada Tiongkok akan mulai memindahkan rantai pasok dan investasi ke Asia Tenggara. 

Langkah ini menciptakan potensi peningkatan investasi langsung, pembukaan lapangan kerja baru, dan transfer teknologi ke negara-negara penerima.

Namun, peluang tersebut datang bersama risiko besar, karena ketegangan yang berkepanjangan dapat mengguncang stabilitas ekonomi global dan menekan pasar ekspor negara-negara ASEAN. 

Apabila AS dan Tiongkok gagal mencapai kesepakatan, fluktuasi harga bahan baku dan gangguan rantai pasok dapat langsung memukul industri lokal. 

Selain itu, persaingan geopolitik yang semakin tajam dapat memaksa negara-negara ASEAN mengambil posisi sulit antara dua kekuatan besar dunia.

Posisi Strategis Korea Selatan dan Jepang

Korea Selatan dan Jepang memiliki peran penting dalam dinamika geopolitik Asia Timur, terutama di tengah rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok. 

Sebagai sekutu utama AS sekaligus mitra dagang besar Tiongkok, kedua negara berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan keamanan dan ekonomi. 

Pertemuan Trump–Xi di Seoul juga menegaskan bahwa Asia Timur kini menjadi pusat negosiasi kekuatan global, di mana negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan anggota ASEAN tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi ikut berperan aktif dalam menavigasi arah persaingan ekonomi dan teknologi dunia. 

Tantangan utama kawasan ini adalah memanfaatkan peluang kerja sama dan investasi baru tanpa terseret dalam rivalitas strategis antara dua kekuatan besar dunia.

kaylalayalia

About Author

You may also like

Dunia

Menteri pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat kembali bertemu

Jakarta teritorial.com – Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, kembali bertemu dengan koleganya, Menteri Pertahanan Amerikat Serikat, James Mattis, di akhir acara
Dunia

Arab Saudi Gagalkan Serangan Rudal yang Targetkan Bandara

Jakarta territorial.com- Pasukan pertahanan Arab Saudi berhasil menggagalkan serangan rudal yang diluncurkan dari wilayah konflik di Yaman, Sabtu (4/11/2017) malam