Jakarta, TERITORIAL.COM – Dinas Rahasia Amerika Serikat (US Secret Service) menangkap seorang pria bersenjata di dekat Gedung Putih, Washington DC, pada Kamis malam (5/11/2026). Pria tersebut diduga mengancam akan membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pelaku diketahui bernama Ronny Yordrix Guanipa Chrinos, warga negara Venezuela. Penangkapan dilakukan setelah petugas melihat gerak-geriknya yang mencurigakan saat berada di dalam sebuah mobil yang terparkir di Constitution Avenue, tidak jauh dari kompleks Gedung Putih.
Berdasarkan keterangan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS), petugas kemudian menghampiri dan memeriksa pria tersebut. Dalam pemeriksaan awal, Chrinos mengaku mendengar suara di kepalanya yang menyuruhnya datang ke Washington DC untuk membunuh Trump.
“Saat didekati oleh petugas, tersangka mengaku mendengar suara di kepalanya yang menyuruhnya datang ke Washington DC untuk membunuh Presiden Trump,” demikian pernyataan DHS.
Petugas juga menemukan bahwa kendaraan yang digunakan Chrinos merupakan mobil yang dilaporkan sebagai barang curian. Pria tersebut kemudian mengakui adanya senjata di dalam mobilnya.
Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan tiga senjata api, yakni satu senapan jenis AR-15 dan dua pistol, termasuk Mac 10 dan Glock 43X. Selain itu, ditemukan puluhan butir amunisi di dalam kendaraan tersebut.
Menurut laporan sejumlah media Amerika Serikat, petugas awalnya mendatangi Chrinos karena mencurigai keberadaannya di dalam mobil yang terparkir. Situasi kemudian ditangani oleh personel Secret Service hingga pria tersebut berhasil diamankan tanpa menimbulkan korban.
Pelaku Terancam Sejumlah Tuduhan Pidana
Setelah ditangkap, Chrinos dijerat sejumlah tuduhan terkait kepemilikan dan pengangkutan senjata api secara ilegal. Ia juga menghadapi tuduhan membawa senjata tanpa izin, kepemilikan senjata dan amunisi yang tidak terdaftar, penggunaan kendaraan tanpa izin, pencurian, serta menerima barang hasil kejahatan.
Saat ini, Chrinos berada dalam tahanan US Marshals Service. Sementara itu, Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) telah mengajukan permintaan penahanan imigrasi terhadap dirinya.
DHS menyebut Chrinos merupakan warga Venezuela yang masuk ke Amerika Serikat melalui Texas pada Maret 2024 secara ilegal. Ia sempat ditangkap oleh petugas Patroli Perbatasan AS sebelum akhirnya dibebaskan.
Hingga laporan ini disusun, belum ada keterangan mengenai pihak pengacara yang mewakili Chrinos.
Secret Service Soroti Ancaman Keamanan Gedung Putih
Direktur Secret Service Sean Curran mengatakan, penangkapan tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan dan pengalaman petugas dalam menghadapi situasi yang berpotensi membahayakan keselamatan presiden maupun masyarakat.
Menurutnya, petugas berhasil mengendalikan situasi sebelum berkembang menjadi ancaman yang lebih serius.
“Ini merupakan contoh terbaru bagaimana personel Dinas Rahasia mengandalkan pelatihan dan pengalaman luas mereka untuk meredakan situasi genting yang mengancam keselamatan pihak-pihak yang kami lindungi, serta warga AS lainnya,” kata Curran.
Ia juga menyoroti meningkatnya ancaman keamanan di sekitar kompleks Gedung Putih, termasuk keberadaan individu bersenjata yang berpotensi membahayakan keselamatan presiden.
“Insiden ini mencerminkan lingkungan dengan tingkat ancaman yang meningkat, serta masih banyak individu bersenjata yang tertarik untuk mendatangi kompleks Gedung Putih,” lanjutnya.
Secret Service mengakui bahwa Gedung Putih dan institusi kepresidenan kerap menjadi perhatian individu yang mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang memicu munculnya ancaman terhadap keselamatan presiden.
Meski demikian, pengakuan Chrinos mengenai suara yang didengarnya belum dengan sendirinya membuktikan adanya diagnosis gangguan kesehatan mental.
Penangkapan ini menambah daftar insiden keamanan yang melibatkan ancaman terhadap Trump sejak kembali menjabat sebagai Presiden AS. Pihak Secret Service menyatakan akan terus meningkatkan upaya deteksi dan pencegahan untuk mengantisipasi potensi ancaman sebelum mencapai kompleks Gedung Putih.

