TERITORIAL.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memulai perdagangan dengan kecenderungan negatif. Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat, 27 Februari 2026, hingga pukul 10.00 WIB, mata uang domestik berada di posisi Rp16.783 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan 24 poin atau sekitar 0,14 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.759 per dolar AS.
Sementara itu, data dari Yahoo Finance pada waktu yang sama menempatkan rupiah di kisaran Rp16.753 per dolar AS. Perbedaan tipis antarplatform tersebut mencerminkan dinamika pasar yang bergerak cepat di awal sesi.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari akan berlangsung dinamis dengan kecenderungan melemah. “Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.750 per USD hingga Rp16.780 per USD,” jelas Ibrahim.
Faktor Global Bayangi Pergerakan Kurs
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari sentimen eksternal. Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan bertemu di Jenewa untuk membahas kembali isu program nuklir Teheran.
Utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner disebut akan melakukan pertemuan dengan pejabat Iran. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi memberi sinyal peluang penyelesaian diplomatik masih terbuka apabila kedua pihak menunjukkan komitmen konstruktif. Presiden AS Donald Trump juga mengingatkan potensi konsekuensi serius bila tidak tercapai kemajuan signifikan.
“Kemudian, pasar menilai dampak dari tarif AS yang baru diumumkan setelah putusan Mahkamah Agung AS baru-baru ini yang mengubah kerangka hukum untuk beberapa langkah perdagangan. Pengenalan bea masuk global baru hingga 15 persen telah menambah ketidakpastian atas prospek perdagangan global,” ungkap Ibrahim.
Selain isu tarif, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve mulai mereda. Para pembuat kebijakan di bank sentral AS dinilai masih berhati-hati lantaran tekanan inflasi yang belum sepenuhnya jinak.
Respons Indonesia atas Dinamika Tarif AS
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada respons pemerintah terhadap dinamika kebijakan tarif AS. Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran terkait untuk memetakan potensi risiko setelah putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian kebijakan tarif sebelumnya.
Pemerintah memastikan perjanjian dagang bilateral Indonesia–AS tetap berjalan sesuai mekanisme yang telah disepakati. Meski terdapat perubahan arah kebijakan, tarif sementara sebesar 10 persen selama 150 hari dinilai lebih moderat dibandingkan skenario awal.
“Ke depan, diplomasi dan negosiasi akan terus dilakukan secara adaptif dengan menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama. Pemerintah memastikan implementasi perjanjian perdagangan tetap memberi manfaat konkret bagi stabilitas ekonomi dan daya saing nasional di tengah dinamika global, termasuk perubahan arah kebijakan tarif Trump,” tutur Ibrahim.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional.

