TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pasar finansial domestik menutup perdagangan pekan lalu dengan kinerja yang bervariasi. Memasuki awal pekan ini, tekanan diperkirakan meningkat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Situasi geopolitik tersebut berpotensi memicu sentimen risk-off di pasar global, termasuk Indonesia.
Pada Jumat (27/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebenarnya sempat tertekan cukup dalam sepanjang sesi perdagangan. Indeks bahkan turun hingga 1,47% sebelum berhasil memangkas pelemahan di penghujung sesi kedua. IHSG akhirnya ditutup stagnan, naik tipis 0,22 poin ke posisi 8.235,48.
Aktivitas transaksi tercatat ramai dengan nilai mencapai Rp38,25 triliun dan volume 47,64 miliar saham dari 2,53 juta kali transaksi. Sebanyak 315 saham terkoreksi, 341 saham menguat, dan 163 saham bergerak datar. Berdasarkan data Refinitiv, tekanan terhadap indeks terutama dipicu oleh pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan IHSG.
Rupiah Melemah, Dolar AS Menguat
Di pasar valuta asing, rupiah kembali terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda ditutup di level Rp16.760 per dolar AS atau melemah 0,06%. Penguatan dolar didorong oleh data klaim pengangguran mingguan AS yang naik 4.000 menjadi 212.000, lebih rendah dari proyeksi 216.000. Angka tersebut memperkuat persepsi bahwa pasar tenaga kerja Amerika masih cukup solid.
Sentimen tambahan datang dari lonjakan indeks harga produsen (PPI) Januari 2026 yang meningkat 0,5% secara bulanan, melampaui ekspektasi 0,3%. PPI inti bahkan melonjak 0,8%, jauh di atas perkiraan 0,3%. Data ini memperbesar kekhawatiran inflasi masih persisten.
Meski demikian, komentar bernada dovish dari Presiden The Fed Chicago, Alan Goolsbee, memberikan sedikit penahan bagi reli dolar. Ia membuka peluang penurunan suku bunga tahun ini jika tekanan inflasi terus mereda.
Wall Street Tertekan dan Sektor Teknologi Melemah
Bursa saham Amerika Serikat juga mencatatkan koreksi tajam. Indeks Dow Jones turun 1,05%, S&P 500 melemah 0,43%, dan Nasdaq terkoreksi 0,92%. Sepanjang Februari, Nasdaq mencatatkan penurunan lebih dari 3%, menjadi kinerja bulanan terburuk sejak Maret tahun lalu.
Tekanan datang dari sektor teknologi dan private credit. Saham seperti Nvidia, Microsoft, Salesforce, hingga Zscaler mengalami penurunan signifikan. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan belanja modal AI serta dampak disrupsi teknologi terhadap ekonomi menjadi faktor utama pelemahan.
Selain itu, meningkatnya laporan pemutusan hubungan kerja (PHK) turut memperkeruh sentimen. Challenger, Gray & Christmas mencatat PHK Januari berada di level tertinggi untuk bulan tersebut sejak krisis keuangan global.
Harga Minyak Berpotensi Naik
Konflik di Timur Tengah turut mengerek harga minyak mentah Brent yang melonjak lebih dari 3% hingga menembus US$73 per barel. Reli ini dipicu oleh premi risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan.
Aliansi produsen minyak OPEC+ yang tergabung dalam kelompok “Voluntary Eight” (V8) dijadwalkan menggelar pertemuan virtual untuk membahas kebijakan kuota produksi. Keputusan mereka akan sangat menentukan arah harga energi global dalam waktu dekat.
Data Inflasi Domestik Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, pelaku pasar menanti rilis inflasi Februari 2026 oleh Badan Pusat Statistik. Sebelumnya, inflasi tahunan Januari mencapai 3,55%, menembus batas atas target Bank Indonesia 1,5%–3,5%. Kenaikan signifikan terjadi pada kelompok perumahan, disusul makanan, kesehatan, dan restoran. Inflasi inti juga naik menjadi 2,45%, tertinggi dalam sembilan bulan.
Data ini menjadi indikator penting menjelang Ramadan dan Lebaran, periode yang umumnya diwarnai peningkatan tekanan harga.

