TERITORIAL.COM, JAKARTA – Tato henna kerap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mempercantik tampilan tubuh tanpa komitmen permanen.
Coraknya yang beragam, tampilannya yang cantik, dan sering dianggap aman karena berbahan alami.
Namun di balik popularitasnya, tato henna, terutama henna berwarna hitam, menyimpan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.
Henna berasal dari tanaman Lawsonia inermis yang tumbuh di wilayah tropis dan subtropis seperti Asia, Afrika, dan Timur Tengah.
Daunnya dikeringkan lalu diolah menjadi bubuk yang secara tradisional digunakan sebagai pewarna rambut, kuku, hingga hiasan kulit sementara.
Di Indonesia, henna lebih dikenal dengan sebutan inna atau pacar. Penggunaannya sudah lama menjadi bagian dari tradisi, terutama dalam prosesi pernikahan dan acara adat di sejumlah daerah.
Warna Alami Henna dan Bahaya Henna Hitam
Secara alami, henna menghasilkan warna jingga kemerahan hingga cokelat. Warna ini muncul secara bertahap dan biasanya bertahan 1–2 minggu di kulit.
Masalah muncul ketika henna dipasarkan dalam bentuk tato berwarna hitam pekat. Untuk mendapatkan warna hitam instan dan tahan lama, produsen sering mencampurkan bahan kimia tambahan, salah satunya p-phenylenediamine (PPD), yakni zat yang juga digunakan dalam pewarna rambut dan industri tekstil.
Dokter spesialis kulit dan kelamin menegaskan bahwa PPD tidak direkomendasikan untuk penggunaan langsung pada kulit.
“PPD merupakan salah satu penyebab paling sering dermatitis kontak alergi berat pada henna hitam,” ujar seorang dokter kulit yang dikutip dari laporan American Academy of Dermatology.
Reaksi alergi akibat PPD bisa muncul dalam hitungan jam hingga beberapa minggu setelah aplikasi.
Reaksi Alergi yang Bisa Terjadi
Paparan PPD pada kulit dapat memicu berbagai keluhan, mulai dari ringan hingga berat, seperti gatal hebat dan sensasi terbakar, ruam kemerahan dan pembengkakan, lepuhan berisi cairan, perubahan warna kulit permanen, luka yang meninggalkan jaringan parut.
Dalam beberapa kasus, peradangan dapat menyebabkan sensitivitas kulit jangka panjang terhadap sinar matahari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sejumlah badan kesehatan internasional juga memperingatkan bahwa penggunaan henna hitam berisiko tinggi, terutama pada anak-anak dan remaja.
Tips Aman Menggunakan Tato Henna
Untuk mengurangi risiko alergi dan iritasi kulit, masyarakat disarankan lebih cermat sebelum menggunakan tato henna.
Henna alami umumnya menghasilkan warna jingga, merah, atau cokelat. Jika warna tato terlihat terlalu gelap atau hitam pekat, besar kemungkinan produk tersebut telah dicampur dengan zat pewarna tambahan yang berbahaya bagi kulit.
Konsumen juga perlu membiasakan diri membaca label komposisi pada kemasan. Pewarna sintetis seperti phenylenediamines atau toluenediamines kerap digunakan untuk mempercepat munculnya warna dan membuat tato lebih tahan lama.
Apabila produk tidak mencantumkan daftar bahan secara jelas atau menimbulkan keraguan, sebaiknya penggunaan dihindari.
Sebelum diaplikasikan secara menyeluruh, henna sebaiknya diuji terlebih dahulu pada sebagian kecil area kulit untuk melihat kemungkinan reaksi alergi.
Penggunaan tato henna juga tidak dianjurkan pada area tubuh yang memiliki kulit sensitif, seperti wajah, leher, atau lipatan tubuh, karena risiko iritasi cenderung lebih tinggi.
Masyarakat juga diimbau tidak mudah tergiur dengan klaim tato henna yang dapat bertahan sangat lama. Secara alami, henna akan memudar dalam waktu sekitar satu hingga dua minggu. Jika warnanya menetap lebih lama dari itu, kemungkinan besar terdapat campuran bahan kimia tambahan di dalamnya.
Tato henna memang terlihat aman dan estetik, tetapi tidak semua produk henna benar-benar alami. Kehati-hatian menjadi kunci untuk mencegah risiko kesehatan yang tidak diinginkan.
Memahami kandungan, mengenali ciri henna berbahaya, dan mendengarkan sinyal tubuh adalah langkah terbaik sebelum memutuskan menggunakannya.

