Glow Up

Sustainable Fashion: Kemeja Bekas hingga Kain Sisa Bisa Disulap Jadi Busana Bernilai Tinggi

Kedutaan Besar Australia dan RMIT menggelar Designers Talk yang membahas upaya mengurangi limbah tekstil dan menerapkan sustainable fashion di RMIT Southeast Asia Hub, Jakarta (31/10/2026).

Jakarta, TERITORIAL.COM – Industri fesyen tidak hanya dituntut menghasilkan pakaian yang menarik secara visual, tetapi juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Mulai dari pemilihan bahan, proses produksi, hingga cara konsumen merawat pakaian, setiap tahap memiliki peran dalam mewujudkan sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan.

Konsep ini mendorong pelaku industri mode untuk lebih bijak menggunakan bahan baku, mengurangi limbah tekstil, serta menciptakan pakaian yang dapat digunakan dalam jangka panjang.

Sustainable fashion juga mengajak masyarakat mengubah kebiasaan dalam membeli dan menggunakan pakaian. Alih-alih terus mengikuti tren, konsumen didorong untuk memilih busana yang berkualitas, merawatnya dengan baik, dan tidak terburu-buru mengganti pakaian hanya karena muncul model terbaru.

Associate Dean Fashion RMIT School of Fashion and Textiles, Dr. Tassia Joannides, mengatakan bahwa keberlanjutan membutuhkan kesadaran dari seluruh pihak yang terlibat dalam industri fesyen, termasuk desainer, pekerja, dan konsumen.

“Sebagai desainer fesyen, pembeli, maupun orang yang bekerja di bidang ini, kita perlu membuat pilihan setiap hari berdasarkan hal yang kita rasa nyaman untuk dilakukan,” ujar Tassia dalam acara Designers Talk yang diselenggarakan Kedutaan Besar Australia bersama RMIT Southeast Asia Hub di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Menurut Tassia, perubahan tidak cukup dilakukan pada desain pakaian. Sistem produksi juga perlu diperhatikan, mulai dari pemilihan material, teknik pembuatan, hingga pengelolaan sisa bahan agar tidak menambah beban lingkungan.

Kemeja Bekas Diolah Menjadi Busana Baru

Salah satu cara menerapkan fesyen berkelanjutan adalah melalui upcycling. Teknik ini dilakukan dengan mengolah kembali pakaian atau material yang sudah tidak terpakai menjadi produk baru dengan fungsi dan tampilan berbeda.

Praktik tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatif Shiva Yousefpour, desainer sekaligus pendiri label SHIYO, ketika menempuh pendidikan desain fesyen di Sydney, Australia.

Saat itu, Shiva mendapat kesempatan untuk mengolah kemeja bisnis pria dari merek Australia, MJ Bale, yang tidak lagi digunakan karena mengalami cacat produksi.

Alih-alih membuang pakaian tersebut, ia mencoba memberikan fungsi dan tampilan baru melalui eksplorasi desain.

“Mungkin saya bisa memberi kesempatan baru pada pakaian yang sudah ada dan menghadirkan cerita berbeda melalui pakaian tersebut,” ujar Shiva.

Dalam koleksi kelulusannya, Shiva melakukan berbagai eksperimen selama tiga bulan tanpa memotong kain. Ia menggunakan teknik lipatan, smocking, jahitan tangan sashiko, serta pewarna alami yang berasal dari eucalyptus dan kopi.

Proses tersebut menghasilkan rancangan yang berbeda dari bentuk awal kemeja. Pendekatan kreatif ini kemudian menjadi salah satu ciri khas SHIYO, yang memadukan latar budaya Persia dengan inspirasi kerajinan Jepang.

Pengalaman Shiva menunjukkan bahwa pakaian yang dianggap tidak lagi layak digunakan masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk baru. Dengan kreativitas dan teknik yang tepat, material lama dapat memiliki nilai estetika sekaligus fungsi yang berbeda.

Memanfaatkan Kain Sisa untuk Mengurangi Limbah Produksi

Praktik serupa juga diterapkan Kate Reynolds dari label fesyen Pageant. Baginya, keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan bahan yang digunakan, tetapi juga kualitas pakaian dan proses pembuatannya.

Dalam menjalankan bisnisnya di Australia, Kate memilih material secara selektif dan bekerja sama dengan produsen serta pemasok berskala kecil.

Prinsip tersebut diterapkan dalam kolaborasi Pageant dengan Hyatt Centric. Keduanya memanfaatkan kembali berbagai material yang sudah tersedia, seperti arsip desain, sampel, potongan kain, hingga aksesori.

Material tersebut kemudian dikembangkan menjadi rancangan baru melalui eksplorasi warna dan desain. Dengan cara ini, proses kreatif dapat dilakukan tanpa harus selalu memulai dari bahan dan pola yang baru.

Kate juga mengingatkan bahwa konsumen memiliki peran besar dalam memperpanjang usia pakai pakaian.

Merawat pakaian, memperbaiki bagian yang rusak, serta memilih produk berkualitas merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari.

Ia mendorong masyarakat untuk mengurangi kebiasaan membeli pakaian secara berlebihan dan mulai mempertimbangkan proses produksi di balik produk yang mereka gunakan.

Kerajinan Lokal Punya Peluang Besar dalam Sustainable Fashion

Selain memanfaatkan pakaian bekas dan kain sisa, fesyen berkelanjutan juga dapat dikembangkan melalui pemberdayaan perajin lokal.

Indonesia memiliki beragam kekayaan kerajinan tekstil, mulai dari batik, tenun, hingga berbagai teknik pengolahan bahan tradisional. Keterampilan tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi desainer untuk menciptakan produk fesyen yang memiliki karakter sekaligus nilai budaya.

Kolaborasi antara desainer dan perajin juga membuka peluang agar keterampilan tradisional tetap digunakan dan berkembang di tengah perubahan industri mode.

Tassia menilai, kemampuan para perajin serta ketersediaan sumber daya lokal merupakan modal penting untuk membangun industri fesyen yang lebih bertanggung jawab.

Karena itu, desainer perlu melibatkan perajin sejak proses pengembangan rancangan, sekaligus memberikan pengakuan terhadap keahlian dan pengetahuan yang mereka miliki.

Menurutnya, penerapan prinsip keberlanjutan tidak selalu berarti meningkatkan jumlah produksi. Sebaliknya, mengurangi skala produksi dan memaksimalkan material yang sudah tersedia dapat menjadi pilihan untuk menekan penggunaan sumber daya baru.

Pendekatan tersebut juga memberikan ruang bagi desainer untuk mengeksplorasi teknik kerajinan lokal dan menghasilkan busana dengan nilai tambah.

Konsumen Juga Bisa Memulai dari Kebiasaan Sederhana

Penerapan sustainable fashion tidak harus selalu dimulai dari industri berskala besar. Konsumen juga dapat berkontribusi melalui perubahan kebiasaan dalam memilih dan menggunakan pakaian.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Membeli pakaian sesuai kebutuhan. Mengurangi pembelian impulsif dapat membantu menekan konsumsi pakaian berlebihan.
  • Memilih pakaian berkualitas. Busana yang tahan lama dapat digunakan lebih lama sehingga tidak perlu sering diganti.
  • Memperbaiki pakaian yang rusak. Kancing lepas, jahitan terbuka, atau bagian kain yang robek tidak selalu berarti pakaian harus dibuang.
  • Memanfaatkan pakaian lama. Pakaian yang sudah jarang digunakan bisa diubah modelnya, didaur ulang, atau diberikan kepada orang lain.
  • Mendukung produk lokal. Memilih produk dari desainer dan perajin lokal dapat membantu mengembangkan keterampilan serta potensi industri kreatif dalam negeri.

Pada akhirnya, sustainable fashion bukan sekadar tren dalam industri mode. Konsep ini berkaitan dengan cara manusia memproduksi, membeli, dan menggunakan pakaian secara lebih bertanggung jawab.

Melalui pemanfaatan material yang sudah ada, produksi yang lebih terukur, serta dukungan terhadap perajin lokal, industri fesyen memiliki peluang untuk berkembang tanpa terus meningkatkan penggunaan sumber daya alam.

Kayla Dikta Alifia

About Author

You may also like

Glow Up

Cuma 15 Menit! Tutorial Makeup Kondangan Anti Ribet yang Bisa Kamu Coba

Siapa bilang tutorial makeup kondangan harus menghabiskan berjam-jam di depan cermin? Dengan 10 langkah praktis ini, kamu bisa tampil elegan hanya dalam
Glow Up

Fashion Indonesia Berduka! Desainer Hengki Kawilarang Meninggal Dunia

Jakarta, Teritorial.com – Kabar duka datang dari industri fashion Tanah Air, fashion desainer Hengki Kawilarang meninggal dunia pada Jumat (20/06/2025). Berita