TERITORIAL.COM, JAKARTA – Nahdlatul Ulama (NU) memasuki babak baru di abad kedua dengan mendorong transformasi organisasi yang lebih modern, digital, dan mandiri tanpa meninggalkan tradisi keulamaan.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menilai, tantangan seperti perkembangan kecerdasan artifisial, perubahan iklim, dan pergeseran generasi menuntut NU memperkuat tata kelola hingga ke tingkat akar rumput.
“Digitalisasi dan standarisasi tata kelola adalah jalur mutlak agar NU tetap berdaya guna dan relevan melayani umat di tingkat akar rumput,” ujar Gus Yahya di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Transformasi dilakukan melalui berbagai program, termasuk platform Digdaya NU dan layanan AI WhatsApp Chatbot untuk mendukung administrasi organisasi. Di sisi lain, kaderisasi terus diperkuat melalui PD-PKPNU dan PMKNU yang telah meluluskan lebih dari 133.000 kader.
Modernisasi tersebut tetap berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi keulamaan, salah satunya melalui program Nasrus Sanad untuk menjaga kesinambungan sanad keilmuan.
Menuju Visi NU 2051, Muktamar ke-35 akan menjadi momentum penting untuk menyusun Roadmap 25 Tahun NU dan Piagam Nilai Keulamaan. PBNU juga mendorong kemandirian ekonomi melalui NUCONOMIC serta memperluas pemanfaatan teknologi hingga tingkat desa.
Gus Yahya menegaskan, keberhasilan transformasi NU bukan hanya diukur dari program yang lahir di tingkat pusat, tetapi dari seberapa jauh manfaatnya dirasakan warga hingga ranting.
“Tujuan akhir dari transformasi ini adalah menciptakan sistem tata kelola dan kemandirian ekonomi yang bekerja secara otomatis,” tegasnya.
Dengan fondasi digital, kaderisasi, ekonomi mandiri, dan tradisi keulamaan, NU menatap 2051 dengan ambisi membangun organisasi yang semakin kuat sekaligus tetap dekat dengan masyarakat.

