TERITORIAL.COM, JAKARTA – Peristiwa tragis terjadi di Kampung Tambakrejo, Kota Semarang, pada Jumat (20/3) dini hari. Sebuah rumah milik warga dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat ledakan hebat yang diduga bersumber dari bahan petasan. Insiden ini tidak hanya menyebabkan kerusakan material, tetapi juga menelan korban jiwa seorang anak.
Ledakan tersebut terjadi sekitar pukul 01.00 WIB. Suara dentuman keras yang terdengar di tengah malam membuat warga sekitar terkejut dan segera berhamburan keluar rumah untuk mencari tahu sumber suara. Saat mendatangi lokasi, warga mendapati kondisi rumah sudah porak-poranda dengan bagian dalam yang hancur.
Ketua RW setempat, Ahmad Rifai, menjelaskan bahwa rumah yang terdampak merupakan milik seorang warga berinisial R. “Warga mendengar suara ledakan keras. Saat dicek, kondisi di dalam rumah sudah hancur,” ujarnya.
Satu Korban Jiwa, Diduga Tertimbun di Dalam Rumah
Dari lima orang penghuni rumah, satu anak berinisial GSP (9) ditemukan meninggal dunia. Proses pencarian dilakukan oleh warga setempat yang berupaya mengevakuasi penghuni dari reruntuhan bangunan.
Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di bawah meja makan. Lokasi tersebut diduga menjadi tempat terakhir korban saat ledakan terjadi. “Korban ditemukan terakhir di bawah meja makan, sudah meninggal dunia,” kata Rifai.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan warga sekitar. Selain korban jiwa, kerusakan pada bangunan juga cukup parah, terutama di bagian dalam rumah yang menjadi titik utama ledakan.
Dugaan Sumber Ledakan dan Penanganan Petugas
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun, ledakan diduga berasal dari bahan petasan yang disimpan di dalam rumah. Material tersebut disebut-sebut diletakkan di bawah alat penanak nasi dan dibeli secara daring. Rencananya, bahan tersebut akan digunakan untuk kegiatan takbir keliling.
Namun, penyimpanan yang tidak aman diduga memicu ledakan yang berujung fatal. Hingga kini, penyebab pasti masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang.
Setelah kejadian, aparat langsung mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi guna mencegah warga mendekat dan menjaga keutuhan barang bukti. Sejumlah personel dari satuan Brigade Mobil juga diterjunkan untuk membantu pengamanan area serta mengantisipasi potensi bahaya lanjutan.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan risiko penggunaan bahan peledak, terutama yang tidak dikelola dengan standar keamanan yang memadai. Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati, terutama menjelang perayaan keagamaan yang sering diwarnai penggunaan petasan.

