TERITORIAL.COM, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat adanya penurunan signifikan pada jumlah uang primer sepanjang awal 2026. Meski kondisi tersebut terlihat cukup besar secara nominal, otoritas moneter menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari pengelolaan likuiditas yang dilakukan secara terukur, bukan sinyal gangguan pada perekonomian nasional.
Data terbaru menunjukkan posisi uang primer atau M0 adjusted pada Mei 2026 berada di level Rp2.214,6 triliun. Secara tahunan angka tersebut masih mengalami pertumbuhan sebesar 14,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun jika dibandingkan dengan posisi akhir 2025, terjadi penyusutan yang cukup mencolok.
Pada Desember 2025, jumlah uang primer tercatat mencapai Rp2.367,8 triliun. Dengan demikian, dalam kurun waktu lima bulan pertama tahun ini terjadi pengurangan sekitar Rp153 triliun dari sistem moneter. Nilai tersebut menjadi salah satu pergerakan likuiditas yang cukup menarik untuk dicermati pelaku pasar maupun masyarakat.
Penurunan Terjadi di Tengah Pengelolaan Likuiditas BI
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pertumbuhan uang primer secara tahunan sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 14,3 persen.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 17,4% YoY dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8% YoY,” terang Denny, Senin (8/6/2026).
Penurunan uang primer bukan berarti dana yang beredar tiba-tiba hilang dari perekonomian. Kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh langkah-langkah kebijakan moneter yang ditempuh BI untuk menjaga kestabilan likuiditas di sektor keuangan.
Uang primer sendiri merupakan gabungan antara uang kartal yang beredar di masyarakat dan dana giro milik perbankan yang ditempatkan di Bank Indonesia. Sementara istilah adjusted merujuk pada perhitungan yang telah menghilangkan pengaruh tertentu dari kebijakan insentif likuiditas, sehingga mencerminkan kondisi yang lebih representatif.
Komposisi Uang Primer Masih Terkendali
Berdasarkan data April 2026, porsi terbesar uang primer masih berasal dari uang kartal yang mencapai Rp1.301 triliun. Komponen berikutnya adalah giro bank umum di Bank Indonesia adjusted yang nilainya mencapai Rp887,4 triliun.
Selain dua komponen utama tersebut, terdapat pula giro sektor swasta di BI sebesar Rp7,6 triliun. Sementara itu, sektor swasta juga memegang surat berharga yang diterbitkan Bank Indonesia senilai Rp36 triliun. Instrumen tersebut terdiri atas Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI).
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun jumlah uang primer mengalami penurunan secara nominal dalam beberapa bulan terakhir, distribusi likuiditas di dalam sistem keuangan masih berada dalam kondisi yang relatif stabil. Langkah yang ditempuh BI dinilai lebih mengarah pada penyesuaian likuiditas secara bertahap guna menjaga keseimbangan moneter di tengah berbagai tantangan ekonomi global yang masih berlangsung.
Dengan kata lain, penyusutan uang primer yang terjadi sepanjang 2026 lebih mencerminkan strategi pengelolaan likuiditas daripada indikasi melemahnya fondasi ekonomi nasional. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memastikan kondisi pasar tetap terkendali.

