TERITORIAL.COM, JAKARTA – Nama Sheila on 7 menjadi salah satu ikon besar dalam perjalanan musik Indonesia. Selama puluhan tahun berkarier, band asal Yogyakarta tersebut berhasil melahirkan berbagai lagu populer yang masih didengarkan hingga saat ini oleh berbagai kalangan dan lintas generasi.
Di tengah tren banyak figur publik yang mulai aktif tampil dalam berbagai program podcast, Sheila on 7 justru mengambil pilihan berbeda. Grup yang beranggotakan Duta, Eross Candra, dan Adam Muhammad Subarkah itu lebih nyaman berbincang melalui radio dibandingkan menjadi tamu dalam podcast milik artis atau musisi lain.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Gitaris sekaligus pencipta lagu Sheila on 7, Eross Candra, menyebut radio memiliki tempat khusus dalam perjalanan karier band tersebut. Menurutnya, radio menjadi salah satu pihak yang berperan besar dalam mengenalkan karya Sheila on 7 kepada masyarakat luas sejak awal mereka meniti karier.
Radio Jadi Bagian Penting Perjalanan Sheila on 7
Eross mengibaratkan radio sebagai pintu awal yang membawa Sheila on 7 mengenal dunia musik yang lebih besar. Baginya, media tersebut bukan hanya menjadi tempat memutar lagu, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang hingga nama Sheila on 7 dikenal luas.
“Radio itu kayak apa namanya ya, kita kayak anak-anak yang dibukakan pintu sama orang tuanya, ya orang tuanya si radio ini ke dunia yang sangat luas,” kata Eross Candra saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026).
Ia kemudian mengenang masa akhir 1990-an ketika Sheila on 7 baru mulai memperkenalkan karya mereka. Saat itu, band tersebut baru merilis lagu pertama berjudul “Kita”. Namun, lagu “Dan” justru mendapat perhatian besar setelah diputar oleh salah satu stasiun radio.
Respons pendengar yang tinggi membuat lagu tersebut cepat dikenal dan kemudian diikuti oleh berbagai radio lainnya.
“Lalu ada salah satu radio yang inisiatif dia memutarkan lagu ‘Dan’, kemudian jadi viral, kalau bahasanya sekarang jadi viral, dan radio lain juga ngikutin.”
“Itu label kita waktu itu, Sony Music, sampai bingung, ‘Lho kita belum kasih mereka buat single kedua lho, tapi kok mereka udah inisiatif?'” kenang Eross.
Menurut Eross, peran radio saat itu sangat menentukan arah perjalanan Sheila on 7. Ia bahkan menyebut kehidupannya mungkin akan berjalan berbeda apabila karya mereka tidak mendapatkan dukungan dari radio.
“Oh pasti, pasti (utang budi). Mungkin kalau nggak ada radio mungkin saya jadi guru Taekwondo sekarang. Beneran itu, radio bener-bener, cikal bakalnya di situ,” tegas Eross.
Lebih Nyaman Berbincang di Radio
Meski saat ini banyak podcast menawarkan ruang berbincang lebih luas bagi para musisi, Eross mengaku belum tertarik untuk sering tampil di platform tersebut. Ia menyebut berbicara panjang di depan kamera menjadi tantangan tersendiri baginya.
Eross mengatakan dirinya biasanya menolak dengan cara yang halus apabila mendapat undangan podcast dari rekan sesama musisi maupun figur publik.
“Ya biasanya (nolaknya), ‘Nanti ya kalau aku udah satu musim mau ngomong banyak, nanti aku pasti datang’. Karena ya memang ngomong banyak itu terlalu PR buat aku,” pungkas Eross.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Sheila on 7 tetap memiliki cara sendiri dalam menjaga hubungan dengan media. Bagi mereka, radio bukan sekadar sarana promosi, melainkan bagian dari sejarah yang turut membesarkan nama band tersebut di industri musik Indonesia.

