Di Tangerang, TNI Kembali Dibenturkan Dengan Rakyat

0

Tangerang, Teritorial.Com – Kepala Satuan Badan Pelaksana Penerangan Kodam (Kapendam) Jaya Letkol Inf Kristomei Sianturi menampik tudingan aparat TNI melakukan intimidasi seperti tudingkan warga Dadap, Tangerang, Banteng

Kristomei mengungkapkan keberadaaan aparat di Kampung Dadap, hanya untuk membangun turap penangkal rob. Tidak seperti yang dikatakan oleh para warga.

Untuk diketahui, sejumlah warga Kampung Dadap, Tangerang, Banteng, mengadu ke Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, Jumat (22/12/2017).

Mereka melaporkan dugaan intimidasi yang dilakukan oleh perwira TNI dari Kodim 0506/Tangerang. Konteks peristiwa tersebut adalah proyek pembangunan rumah susun dan jembatan di pulau reklamasi yang dibangun di Kampung Dadap.

Permasalahan ini sendiri berawal saat warga bersitegang dengan Pemda Tangerang terkait rencana penggusuran kampung pada 2016. Warga kemudian mengadukan rencana itu ke Ombudsman. Kala itu Ombudsman merekomendasikan musyawarah antara warga dengan pemerintah.

“Kodim saat ini sedang membantu Pemda. Saat ini Kodim sedang melakukan kegiatan Karya Bakti, mengerjakan pekerjaan Pemda, dalam bentuk pembuatan turap menahan gelombang air laut,” ucap Kristomei seperti dikutip Teritorial.com dari Tirto.id, Minggu (24/12).

Kemudian, Kristomei juga menjelaskan, Kodim 0506/Tangerang tak hanya menurunkan personel tapi juga alat berat milik TNI. Guna menjaga alat berat dan proyek tersebut, kata Kristomei, ada aparat yang bekerja dan ada yang mengawal.

Pengawalan ini membuat aparat menenteng senjata lengkap. Ia menyebut, keberadaan senjata itu tak perlu dipersoalkan lantaran TNI memang dipersenjatai. Sehingga, kata dia, warga tak perlu resah.

“Kalau rakyatnya enggak ngapa-ngapain buat apa resah? Tentara juga enggak ngapa-ngapain. Setiap hari juga tentara biasa dipersenjatai. Itu memang program kerja sama Pemda dengan Kodim. Karya Bakti itu tak murni TNI tapi dengan masyarakat,” tegasnya.

Pemda Datangi TNI Untuk Usir Warga.

Pemda mulai menjalankan idenya pertama kali pada Oktober 2017. Kemudian pada 15 Desember 2017, TNI  dari Kodim 0506/Tangerang-tiba masuk ke kampung dengan senjata lengkap. Pada saat bersamaan, warga diminta pindah ke rumah susun yang ternyata belum dibangun Pemda.

“Warga menolak, mereka enggak mau pindah. [Pemda] datengin tentara,” kata Nelson.

Kedatangan TNI ke Kampung Dadap ini membuat warga resah. Waisul Kurnia (33), salah seorang warga Kampung Dadap, mengaku dia dan enam ribu warga di kampung itu merasa terganggu dengan kehadiran TNI di lingkungan mereka.

“Kami merasa terganggu,” ucap pria yang akrab disapa Isul ini.

Sementara itu, pengakuan salah satu warga Faisul, TNI pertama kali datang setelah Pemda Tangerang mencanangkan rencana pengosongan lahan membangun rumah susun sebagai tempat tinggal warga pada awal Oktober 2017. Pada 16 Oktober 2017, alat berat untuk pembangunan rusun mulai masuk ke kampung.

Waisul mengatakan alat berat masuk kampung dikawal aparat Koramil 03/Teluk Naga, Kodim 0506/Tangerang, Polsek Kampung Naga, serta sejumlah pegawai kelurahan setempat. Masuknya alat berat itu sempat membuat warga protes dan memicu cekcok mulut dengan Danramil 03/Teluk Naga.

Selepas percekcokan itu, warga kemudian bertemu dengan Dandim 0506/Tangerang. Pertemuan itu memanas lantaran warga menanyakan tentang izin. Warga sempat mengancam akan melaporkan kepada Panglima TNI yang kala itu masih dipegang Jenderal Gatot Nurmantyo.

Usai pertemuan aparat TNI tak tampak lagi di Kampung Dadap. Kemudian pada 7 Desember 2017, Pasi Intel Kodim 0506/Tangerang bernama Kapten CPM Agus Halim Siregar, bersama anggotanya bernama Sembiring, dan petugas Babinsa bernama Sukoyo, bersama dua orang lainnya, berusaha menemui tokoh kampung. Waisul mengaku tak tahu apa yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut.

Sepekan berselang setelah pertemuan, sekitar 20 prajurit TNI tiba-tiba datang kembali dengan alasan Karya Bakti. Alasan kedatangan mereka, kata Waisul, terdengar janggal lantaran personel TNI datang menenteng senjata lengkap dan tidak melibatkan masyarakat. Kedua puluh aparat itu selalu bersiaga di Kampung Dadap.

Waisul mempertanyakan, jika memang kerja bakti atau Karya Bakti, kenapa harus datang ke kampung dengan bersenjata lengkap.

Ros /Tirto.id

Share.

Leave A Reply

%d blogger menyukai ini: