TERITORIAL.COM, JAKARTA – Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang diperingati setiap 1 Mei, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengajak para pekerja dan buruh untuk merayakannya dengan cara yang lebih konstruktif. Menurutnya, momentum ini sebaiknya dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan industrial yang sehat tanpa mengabaikan esensi perjuangan buruh itu sendiri.
“Pada peringatan May Day nanti, mari adakan kegiatan yang konstruktif tanpa mengurangi hakikat May Day itu sendiri, yaitu menjaga hubungan industrial yang kondusif,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri forum silaturahmi dan dialog bersama serikat pekerja di kawasan Truntum Gama, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/4/2026). Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa stabilitas wilayah menjadi faktor penting dalam menjaga iklim investasi. Kondisi yang aman dan tertib dinilai mampu menarik minat investor untuk menanamkan modal di daerah.
Ia menjelaskan, jika kondisi daerah tidak stabil, maka dampaknya bisa langsung terasa terhadap aliran investasi. Padahal, investasi memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
Investasi Tinggi, Ekonomi Jateng Tumbuh
Ahmad Luthfi memaparkan bahwa tingkat kondusivitas di Jawa Tengah turut berkontribusi pada tingginya realisasi investasi sepanjang 2025. Total investasi yang masuk mencapai Rp110,02 triliun, yang terdiri dari penanaman modal asing sebesar Rp50,86 triliun dan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp37,64 triliun.
Selain itu, sektor usaha mikro kecil (UMK) juga memberikan kontribusi signifikan dengan nilai investasi sebesar Rp21,52 triliun. Tingginya angka investasi tersebut berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang tercatat mencapai 5,37 persen sepanjang tahun 2025.
Tak hanya menjaga stabilitas, pemerintah daerah juga berupaya meningkatkan daya tarik investasi melalui percepatan proses perizinan serta pengembangan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus. Langkah ini diharapkan dapat semakin memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai destinasi investasi yang kompetitif di Indonesia.
Serap Aspirasi Buruh dan Dorong Kesejahteraan
Dalam forum tersebut, Gubernur juga membuka ruang dialog dengan perwakilan dari 78 serikat buruh dan pekerja. Sejumlah isu penting yang disampaikan antara lain terkait pemutusan hubungan kerja (PHK), hak pesangon yang belum terpenuhi, hingga persoalan kesejahteraan tenaga kerja.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus mendorong upah yang lebih kompetitif. Upaya peningkatan kualitas tenaga kerja dilakukan melalui penguatan pendidikan vokasi, balai latihan kerja (BLK), serta politeknik yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri.
Langkah ini bertujuan agar tenaga kerja lokal mampu bersaing dan terserap oleh investasi yang masuk, sehingga angka pengangguran terbuka dapat ditekan. Saat ini, sekitar 340.000 tenaga kerja telah terserap oleh sektor industri di Jawa Tengah, yang turut membantu menurunkan tingkat pengangguran.
“Kami ingin pekerja dan buruh bukan (diperlakukan) sebagai alat produksi, melainkan ikut serta dalam mengembangkan perusahaan,” tegasnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga memperkenalkan program perumahan bagi pekerja berpenghasilan rendah melalui inisiatif 3 Juta Rumah. Program ini difasilitasi oleh Bank Jateng bersama Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jawa Tengah, dengan harapan dapat membantu buruh memperoleh hunian yang layak dan terjangkau.

