TERITORIAL.COM, JAKARTA – Upaya penyelamatan produksi karet rakyat di Sumatera Selatan terus diperkuat. Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel bersama tim SATREPS Project–Japan International Cooperation Agency (JICA) sepakat melakukan uji coba pengendalian penyakit gugur daun Pestalotiopsis dalam skala besar di sejumlah wilayah sentra perkebunan karet.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat B Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan pada Selasa (12/5/2026). Pertemuan itu melibatkan berbagai pihak, mulai dari peneliti Jepang, Puslit Karet Sembawa, Apkarindo Sumsel, hingga jajaran UPTD BPTP Dinas Perkebunan Sumsel.
Program ini dirancang bukan hanya untuk penelitian semata, tetapi juga sebagai langkah nyata membantu petani karet menghadapi ancaman penyakit gugur daun yang selama beberapa tahun terakhir berdampak pada penurunan produksi dan pendapatan petani.
Project Coordinator SATREPS-JICA, Mitani Satoru, menjelaskan bahwa penelitian terkait pengendalian penyakit gugur daun pada tanaman karet sebenarnya telah berlangsung cukup lama bersama Puslit Karet Sembawa. Sejumlah percobaan lapangan yang dilakukan di Kabupaten Banyuasin dan Muara Enim menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.
Menurutnya, metode fogging yang dilakukan hingga 12 kali dalam satu musim terbukti mampu menekan penyebaran penyakit Pestalotiopsis secara signifikan. Selain pendekatan kimia menggunakan fungisida selektif, tim peneliti juga mengembangkan metode hayati dengan memanfaatkan Bacillus dan Trichoderma sebagai agen pengendali alami.
Tidak hanya fokus pada pengendalian penyakit, penelitian tersebut juga berhasil menemukan beberapa klon karet unggulan yang dinilai lebih tahan terhadap Penyakit Kering Alur Sadap (KAS) maupun serangan gugur daun. Temuan itu diproyeksikan dapat mendukung program peremajaan kebun karet rakyat di Sumsel.
Uji Coba Skala Luas Dinilai Lebih Efektif
Ketua DPW Apkarindo Sumsel, Supartijo, menilai pengujian teknologi pengendalian penyakit tidak akan efektif jika hanya dilakukan dalam luasan kecil. Karena itu, pihaknya mendorong agar demplot dilakukan minimal dalam satu desa atau kelompok UPPB dengan cakupan 50 hingga 150 hektare.
“Kalau hanya 2-3 hektare, dampaknya tidak akan terlihat nyata bagi petani. Karena itu, uji coba harus minimal satu desa atau satu kelompok UPPB dengan luasan 50-150 hektare agar hasilnya benar-benar terukur dan meyakinkan petani,” ujarnya.
Usulan tersebut mendapat sambutan positif dari tim SATREPS-JICA. Mitani Satoru menyampaikan pihaknya akan mengupayakan dukungan sponsor dari sejumlah perusahaan Jepang guna membantu penyediaan alat fogging, fungisida, hingga agensia hayati yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program.
Selain itu, rapat juga menyepakati pembentukan tim teknis gabungan yang terdiri dari Apkarindo, Puslit Karet, UPTD BPTP, dan SATREPS. Tim ini nantinya bertugas menyusun detail pelaksanaan uji coba lapangan sekaligus menyiapkan proposal kerja sama kepada calon sponsor dari Jepang.
Apkarindo Sumsel pun menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi sejumlah UPPB binaan di Banyuasin, Ogan Ilir, dan Kota Prabumulih sebagai lokasi pelaksanaan program skala luas tersebut.
Dorong Penyelamatan Produksi Karet Rakyat
Melalui kolaborasi ini, Apkarindo berharap program pengendalian penyakit gugur daun dapat menjadi solusi jangka panjang bagi petani karet di Sumatera Selatan. Penyakit tersebut selama ini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi produktivitas kebun rakyat.
“Dengan ditemukannya formula pengendalian penyakit gugur daun, kami akan mendorong pemerintah melakukan gerakan massal penyelamatan karet rakyat melalui program fogging terpadu secara luas dan berkelanjutan,” tegas Supartijo.
Rapat yang berakhir pada pukul 16.30 WIB itu ditutup dengan optimisme bahwa kerja sama antara Indonesia dan Jepang mampu membantu menjaga produksi karet Sumsel sekaligus meningkatkan kesejahteraan ratusan ribu keluarga petani karet di wilayah tersebut.

