BNPT: Terorisme di Indonesia Masih Terapkan Pola Terdahulu

0

Jakarta, Teritorial.Com – Tidak memiliki keterkaitan secara langsung dengan Jamaah Islamiyah (JI), namun hampir seluruh gerakan serta sempalan gerakan yang berkaitan dengan aksi terorisme seperti Jamaah Ashrut Daullah (JAD) dan Jamaah Syariat Daullah (JSD).

Adapun Al-Qaeda hingga terakhir ini ISIS merupakan salah satu contoh pengaruh eksternal. Namun hal tersebut berdampak besar bagi animo pergerakan terorisme di Indonesia. Pengaruh kedua jelas sangat terasa lantaran bagi sejumlah orang yang memang telah terjangkit virus radikalisme akan sangat lebih mudah mentransfer perjuangan mereka kepada kelompok-kelompok yang beroperasi secara lokal.

Sebut saja ketika kita bicara penyebaran ISIS belakangan ini lebih didominasi oleh mereka yang memang sebelumnya telah terlibat atau terjangkit pemikiran radikal. “Bicara Indonesia jelas maka akarnya tidak lain adalah Jamaah Islamiyah (JI). Secara simbolis pentolan JI Abu Bakar Ba’ashir  telah lama diamankan Kepolisian namun hal tersebut bukan berarti menjadi ukuran bahwa JI telah bubar dan terorisme di Indonesia telah berakhir,” Paparan Irjen Pol Hamidin Kepala Deputi Kerja Sama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dalam seminar internasional ilmu pertahanan IIDSS 2018. 

Tidak hanya faktor ideologis peninggalan pembagian koridor wilayah aksi penyerangan teroris atau biasa disebut Mantiqi hingga kini tetap menjadi maping yang digunakan oleh gerakan terorisme generasi saat ini. “Sejak pembagian Al-Qaeda pada saat itu Singapura dan Malaysia merupakan Mantiqi I, kemudian Jawa, Sumatra, dan Bali merupakan Mantiqi II, selebihnya wilayah Timur Indonesia termasuk Ambon, Poso, dan Sulawesi merupakan Mantiqi III dan lebih tepatnya digunakan sebagai traning bagi mereka untuk mendidik kader-kader teroris,” Ujar Irjen Pol Hamidin.

Berkaca pada serangkaian peristiwa bom di Surabaya menggambarkan bahwa secara tradisional penyebaran terorisme di Indonesia masih menggunakan skema terdahulu dimana tetap berpaku pada pola kidship dan friendship. “Kidship lebih pada hubungan darah, dimana akan sangat dengan mudah bagi mereka seorang teroris lalu menikah dengan pasangan yang juga memiliki pemahaman yang sama. Dengan demikian, keturunan mereka sudah pasti memiliki ideologi yang serupa,” tegasnya. 

Doktrinasi yang dilakukanpun tidak jauh berbeda. Mengutip propaganda yang dilakukan oleh Osama Bin Laden dengan mendasari apa yang dilakukan berdasarkan pada dua hal, yakni holy land, dan holy Jihad. Dua istilah tersebut hampir tidak pernah terlepas dari upaya awal doktrinasi yang digunakan oleh kelompok-kelompok teroris untuk menjustifikasi kebenaran atas apa yang hendak mereka lakukan. 

Tak jauh berbeda, pemimpin ISIS Abu Bhakar Al-Baghdadi juga mengutarakan hal serupa. Mereka menyebut apa yang mereka lakukan adalah bentuk amaliah, dimana bagi mereka apa yang dimiliki dapat  digunakan sebagai perjuangan. 

“Istilahnya mereka menawarkan apa yang disebut amaliah, misal jika kamu tidak memiliki apapun bahan peledak senjata, kamu bisa membantu sahabatmu yang tengah berjuang apapun bentuknya, harta, hingga mengorbankan dirinya sendiri,” tambahnya.

Terkait dengan target, jelas bahwa gerakan teroris tersebut juga tidak banyak mengalami perkembangan. Pasca tragedi 9/11, kelompok teroris menandakan bahwa target mereka tetap tidak hanya sebatas instalasi militer negara-negara barat, namun apapun kepemilikan aset-aset strategis dunia barat yang dianggap golongan kafir bagi mereka, halal hukumnya untuk diserang. (SON)

Share.

Comments are closed.