TERITORIAL.COM, JAKARTA – Indonesia hari ini memasuki momen krusial yang dinanti-nantikan oleh jutaan umat Muslim di seluruh penjuru negeri. Pemerintah, melalui Kementerian Agama (Kemenag), menggelar Sidang Isbat (penetapan) untuk menentukan secara resmi kapan 1 Ramadan 1447 Hijriah atau awal puasa tahun 2026 dimulai.
Kepastian tanggal dimulainya bulan suci Ramadan sangat penting bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri menyambut ibadah puasa, tarawih, dan berbagai amalan lainnya. Sidang Isbat menjadi penentu utama dalam memberikan kepastian hukum agama, sekaligus menjaga kesatuan umat dalam memulai ibadah tahunan ini.
Proses Sidang Isbat: Gabungan Hisab dan Rukyat
Sidang Isbat yang diselenggarakan hari ini merupakan puncak dari serangkaian upaya ilmiah dan keagamaan yang dilakukan pemerintah. Dalam menentukan awal bulan Hijriah, Kemenag selalu menggunakan dua metode utama yang terintegrasi: perhitungan astronomi (Hisab) dan pengamatan langsung hilal (Rukyatul Hilal).
Tiga Tahap Penentuan Resmi
Sidang Isbat hari ini dibagi menjadi tiga tahapan penting yang memastikan transparansi dan akuntabilitas keputusan yang diambil:
1. Pemaparan Data Posisi Hilal (Hisab)
Sebelum sidang utama, Kemenag telah mengundang para pakar falak, astronomi, dan perwakilan organisasi masyarakat Islam untuk mendengarkan pemaparan data hisab. Data ini meliputi posisi ketinggian hilal, elongasi, dan kondisi geografis di seluruh Indonesia.
Baca juga : 1.919 Personel Gabungan Siap Jaga Imlek 2026 di Jakarta: Fokus Pengamanan 165 Vihara
Hasil perhitungan hisab menjadi dasar prediksi awal bulan. Namun, dalam sistem penentuan Indonesia, data hisab harus dikonfirmasi melalui pengamatan visual (rukyat).
2. Laporan Rukyatul Hilal dari Seluruh Indonesia
Pada sore hari menjelang maghrib, tim Kemenag yang ditempatkan di berbagai lokasi strategis (seperti yang terlihat dalam upaya pemantauan hilal di berbagai masjid atau observatorium) akan melaksanakan Rukyatul Hilal. Tim ini terdiri dari perwakilan Kemenag, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta perwakilan ormas Islam setempat.
Laporan dari titik-titik pengamatan ini sangat menentukan. Jika hilal (bulan sabit muda) terlihat, maka malam tersebut ditetapkan sebagai awal Ramadan 1447 H. Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat, maka bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari (Istikmal).
3. Sesi Tertutup dan Pengumuman Resmi
Tahap akhir adalah sesi musyawarah tertutup yang melibatkan Menteri Agama, para pimpinan organisasi masyarakat Islam (seperti MUI dan NU), serta perwakilan Komisi VIII DPR RI. Dalam sesi ini, seluruh data hisab dan laporan rukyat dikaji dan diputuskan secara kolektif.
Hasil final penentuan awal Ramadan 2026 akan diumumkan kepada publik dalam konferensi pers resmi yang dijadwalkan setelah salat Magrib.
Antisipasi Umat dan Potensi Keseragaman 1 Ramadan
Pelaksanaan Sidang Isbat ini selalu menarik perhatian karena menentukan apakah umat Islam di Indonesia akan memulai puasa secara seragam atau mungkin terdapat perbedaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, koordinasi antara perhitungan hisab dan pengamatan rukyat semakin ketat, didukung oleh standar kriteria baru (MABIMS) yang juga digunakan oleh negara-negara tetangga. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir potensi perbedaan penentuan 1 Ramadan 1447 H.
Kementerian Agama memastikan bahwa keputusan yang dihasilkan dari Sidang Isbat adalah keputusan kolektif pemerintah yang sah dan harus dijadikan acuan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Penentuan Awal Ramadan 2026 atau 1447 Hijriah melalui Sidang Isbat hari ini merupakan bukti komitmen pemerintah dalam memfasilitasi pelaksanaan ibadah umat Muslim. Dengan melibatkan ahli astronomi, pakar agama, dan perwakilan organisasi masyarakat, proses ini menjamin bahwa penetapan tanggal awal puasa dilakukan berdasarkan kaidah syariat dan ilmu pengetahuan. Hasil resmi yang diumumkan malam ini akan memberikan kejelasan dan mempersatukan umat dalam menyambut bulan penuh berkah yang dinantikan, memulai rangkaian ibadah puasa serentak di Indonesia.

