Daerahku Headline

Dua Gempa M5,9 dan M5,7 Guncang Sumba dan Aceh dalam 42 Menit, Apakah Saling Berkaitan?

Jakarta, TERITORIAL.COM – Dua gempa bumi dengan magnitudo di atas 5 mengguncang wilayah Indonesia pada Minggu (4/10/2026) pagi. Gempa pertama bermagnitudo 5,9 terjadi di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), pukul 05.55 WIB. Sekitar 42 menit kemudian, gempa bermagnitudo 5,7 mengguncang Aceh Jaya, Aceh, pada pukul 06.37 WIB.

Kedua gempa tersebut terjadi di wilayah yang berbeda dan memiliki karakteristik tektonik masing-masing. Meski berlangsung dalam waktu berdekatan, pakar kegempaan menegaskan bahwa kedua peristiwa itu tidak memiliki hubungan sebab-akibat.

Pakar gempa sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa gempa di Sumba Barat Daya dan Aceh Jaya berasal dari sumber serta mekanisme pergerakan lempeng yang berbeda.

Gempa Sumba Barat Daya terjadi pada kedalaman sekitar 30 kilometer dengan mekanisme sesar turun (normal fault). Jenis gempa ini terjadi ketika kerak bumi mengalami peregangan sehingga salah satu blok batuan bergerak turun terhadap blok lainnya.

Sementara itu, gempa Aceh Jaya tercatat pada kedalaman sekitar 55 kilometer dengan mekanisme sesar naik (thrust fault). Pergerakan ini berkaitan dengan tekanan akibat aktivitas tektonik di zona subduksi Sumatra, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.

Perbedaan mekanisme tersebut menunjukkan bahwa kedua gempa berasal dari sistem tektonik yang berlainan. Jarak geografis yang sangat jauh juga membuat keduanya tidak dapat dianggap sebagai rangkaian gempa yang saling memicu.

Perbedaan kedalaman dan mekanisme gempa juga berpengaruh terhadap tingkat guncangan yang dirasakan masyarakat. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa Sumba Barat Daya menimbulkan guncangan hingga skala VI Modified Mercalli Intensity (MMI) di sejumlah wilayah, termasuk Kodi dan sekitarnya. Pada skala ini, guncangan dapat membuat warga berhamburan keluar rumah dan berpotensi menyebabkan kerusakan bangunan. BMKG juga melaporkan adanya kerusakan pada sejumlah rumah warga dan bangunan sekolah di Desa Perokonda, Kecamatan Kodi.

Sementara itu, gempa di wilayah Aceh Jaya tercatat memiliki magnitudo 5,9 dengan kedalaman 26 kilometer berdasarkan pemutakhiran data BMKG. Guncangannya dirasakan dengan intensitas III–IV MMI di sejumlah wilayah, termasuk Aceh Besar, Banda Aceh, dan Aceh Barat. Kedua gempa tersebut dinyatakan tidak berpotensi tsunami berdasarkan pemodelan BMKG.

Daryono menjelaskan bahwa besarnya magnitudo bukan satu-satunya faktor yang menentukan kuat atau lemahnya guncangan di permukaan. Kedalaman pusat gempa, jarak dari episentrum, kondisi geologi, serta karakteristik tanah di wilayah terdampak turut memengaruhi intensitas guncangan.

Artinya, gempa dengan magnitudo yang hampir sama dapat menimbulkan dampak berbeda di setiap wilayah. Gempa yang lebih dangkal, misalnya, dapat menghasilkan guncangan lebih kuat di permukaan apabila faktor-faktor lainnya mendukung.

Dua gempa yang terjadi dalam waktu kurang dari satu jam ini sekaligus menggambarkan tingginya aktivitas tektonik di Indonesia. Secara geografis, Indonesia berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif yang menjadikan wilayahnya rentan terhadap gempa bumi.

Meski demikian, kemunculan dua gempa dalam waktu berdekatan tidak serta-merta menandakan bahwa keduanya saling memicu. Aktivitas gempa dapat berlangsung secara independen di berbagai zona tektonik, bergantung pada akumulasi dan pelepasan energi di masing-masing sumber gempa.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah yang terdampak, untuk tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Warga juga diminta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan atau retakan akibat gempa serta mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Hingga pukul 08.05 WIB, BMKG mencatat 62 aktivitas gempa susulan di wilayah Sumba Barat Daya dengan magnitudo berkisar 1,5 hingga 4,3. Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti informasi dan arahan resmi dari BMKG serta memastikan kondisi bangunan sebelum kembali beraktivitas.

Kayla Dikta Alifia

About Author

You may also like

Daerahku

Kementerian Pertahanan Tinjau Pembangunan Kawasan Perbatasan Di Kalbar

Kalimantan Barat, Teritorial. Com – Kementerian Pertahanan dalam hal ini Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan, pada tanggal 23 sampai dengan 25
Daerahku

Satgas Yonif PR 432 Kostrad Jaga perbatasan RI-PNG

Papua Barat, Teritorial.com- Prajurit Satgas Yonif PR 432, akhir november tiba desember awal langsung menempati jajaran pos sepanjang perbatasan sekotr