TERITORIAL.COM, JAKARTA – Kabupaten Brebes tengah bersiap menjadi pusat peternakan sapi perah terbesar di Indonesia melalui pembangunan mega farm berskala nasional. Proyek ambisius ini digarap oleh PT Global Dairy Bersama yang berada di bawah naungan Djarum Group. Dengan kapasitas produksi mencapai 180.000 ton susu per tahun, proyek ini digadang-gadang akan menjadi tonggak penting dalam penguatan sektor peternakan nasional.
Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, menyambut positif investasi tersebut. Ia menilai kehadiran mega farm ini bukan hanya sebagai proyek ekonomi, tetapi juga solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. “Ini kebanggaan bagi kami. Investasi ini berskala nasional dan bisa menjadi solusi pengentasan kemiskinan di Brebes,” ujarnya.
Menurutnya, proyek ini berpotensi membuka banyak lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan warga. Pemerintah daerah pun menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung realisasi investasi sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Dukungan Pemprov dan Potensi Nasional
Proyek ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa investasi tersebut sangat strategis, terutama dalam mendukung target swasembada pangan, termasuk produksi susu nasional.
Ia menyebut Jawa Tengah saat ini menjadi salah satu tujuan utama investasi karena faktor keamanan yang kondusif, kemudahan perizinan, serta ketersediaan tenaga kerja. “RPJM 2026 kita fokus pada swasembada pangan, termasuk susu. Maka investasi seperti ini sangat strategis,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyampaikan bahwa proyek ini berpotensi menjadi yang terbesar di Indonesia. Saat ini, peternakan sapi perah terbesar dalam satu kawasan hanya menampung sekitar 20.000 ekor, jauh di bawah rencana proyek di Brebes.
Mega farm ini diproyeksikan mampu menyumbang hingga 18 persen produksi susu nasional. Mengingat kebutuhan susu nasional mencapai sekitar 4,7 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 1 juta ton, kehadiran proyek ini dinilai sangat penting untuk mengurangi ketergantungan impor.
Konsep Terintegrasi dan Dampak Sosial Ekonomi
Perwakilan perusahaan, Ihsan Mulia Putri, menjelaskan bahwa proyek akan dibangun di atas lahan seluas 710 hektar dengan konsep terintegrasi dari hulu hingga hilir. “Ini bukan sekadar peternakan, tetapi ekosistem dari hulu ke hilir,” ujarnya.
Mega farm ini akan mengusung sistem ramah lingkungan berbasis close loop system. Limbah ternak akan diolah menjadi biogas sebagai sumber energi, sementara residunya dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Selain itu, sistem daur ulang air juga akan diterapkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.
Dengan target populasi sekitar 28.000 ekor sapi, produksi susu diproyeksikan mencapai 180.000 ton per tahun. Fasilitas pendukung seperti pabrik pengolahan susu, pabrik pakan, hingga perkebunan jagung juga akan dibangun untuk mendukung operasional.
Dari sisi pemberdayaan masyarakat, proyek ini diperkirakan melibatkan sekitar 5.000 petani untuk penyediaan pakan di lahan seluas 2.000 hektar. Selain itu, sekitar 8.000 peternak lokal akan dilibatkan dalam pengembangan sapi perah.
Tahapan proyek direncanakan dimulai dengan persiapan lahan pada Juni 2026, dilanjutkan pembangunan hingga akhir 2027. Produksi perdana atau first milking ditargetkan dapat dimulai pada Desember 2027.
Dengan skala dan konsep yang diusung, proyek ini diharapkan tidak hanya menjadi yang terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi model pengembangan peternakan modern yang berkelanjutan.

