HEBRON, Teritorial.com – Operasi militer Israel di Hebron, Tepi Barat yang diduduki, memaksa sedikitnya 2.649 warga Palestina meninggalkan rumah mereka. Data yang disampaikan Komite Dukungan dan Bantuan Hebron pada Senin (26/10/2026) itu mencakup 407 keluarga yang terdampak operasi militer, penggerebekan, serta pembatasan pergerakan warga.
Operasi tersebut berlangsung sejak Jumat (23/10/2026), setelah dua tentara Israel tewas dalam serangan bersenjata di dekat pos pemeriksaan militer di sekitar Hebron. Militer Israel kemudian memperluas operasi keamanan di sejumlah lingkungan, termasuk Ein Deir Baha dan Al-Jilda.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh warga yang harus meninggalkan tempat tinggal. Penutupan akses, pemeriksaan militer, dan kerusakan bangunan juga mengganggu aktivitas masyarakat serta meningkatkan kebutuhan bantuan kemanusiaan.
Meski demikian, angka pengungsian terus berubah. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) melaporkan pada 27 Oktober bahwa lebih dari 3.000 orang telah dievakuasi oleh pasukan Israel sejak Jumat. Sementara itu, kantor berita Palestina WAFA melaporkan hampir 4.000 warga mengungsi berdasarkan data otoritas setempat. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pendataan masih berkembang seiring berlanjutnya operasi. Sumber: PBB
Ratusan Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal
Juru bicara Komite Dukungan dan Bantuan Hebron, Riyad Khamis, menyebut 407 keluarga atau 2.649 orang terdampak operasi militer berdasarkan pendataan yang dihimpun hingga Senin. Data tersebut berasal dari sejumlah kawasan, antara lain Ein Deir Baha, Al-Jilda, Khillet al-Magharbeh, dan Farsh al-Hawa.
Kelompok terdampak mencakup anak-anak, warga lanjut usia, perempuan hamil atau yang baru melahirkan, serta orang dengan disabilitas dan penyakit kronis. Kondisi ini meningkatkan kerentanan keluarga yang harus meninggalkan rumah dalam waktu singkat.
Bagi warga yang membutuhkan perawatan rutin, pengungsian juga berisiko memutus akses terhadap obat-obatan, tenaga medis, dan fasilitas kesehatan. Pembatasan jalan serta penutupan akses dapat memperpanjang perjalanan menuju layanan kesehatan yang dibutuhkan.
Sejumlah warga mengatakan mereka tidak memiliki cukup waktu untuk mengemas barang sebelum meninggalkan rumah. Selain itu, belum ada kepastian mengenai kapan mereka dapat kembali ke tempat tinggal masing-masing. Sumber: The Jerusalem Post
Israel Perketat Operasi dan Akses Hebron
Militer Israel melancarkan operasi setelah dua warga Palestina melakukan penembakan di dekat pos pemeriksaan militer pada Jumat. Serangan tersebut menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga lainnya. Kedua pelaku kemudian tewas ditembak pasukan Israel.
Pemerintah Israel menyatakan operasi bertujuan mencari anggota kelompok bersenjata dan persenjataan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya juga menjanjikan operasi berskala besar setelah serangan tersebut.
Dalam pelaksanaannya, pasukan Israel memperketat pemeriksaan, menutup sejumlah akses, dan melakukan penggerebekan di kawasan permukiman. Laporan dari lapangan juga menyebut adanya penyitaan kendaraan serta penghancuran sejumlah bangunan komersial dan tempat tinggal.
Otoritas Palestina mengecam tindakan tersebut dan menilai pengusiran warga secara luas sebagai bentuk hukuman kolektif. Namun, Israel menyatakan operasi itu berkaitan dengan upaya keamanan setelah serangan terhadap tentaranya.
PBB Soroti Dampak Kemanusiaan
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyoroti dampak operasi tersebut terhadap warga sipil. Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, menyampaikan kekhawatiran serius atas pengusiran warga, penghancuran properti, dan pembatasan kebebasan bergerak di Hebron.
Menurut OCHA, mitra kemanusiaan sedang membantu otoritas setempat memenuhi kebutuhan ribuan orang yang dievakuasi. Bantuan tersebut diperlukan untuk mendukung keluarga yang kehilangan akses ke tempat tinggal dan kebutuhan dasar.
Selain tempat berlindung, warga terdampak memerlukan makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta perlindungan bagi kelompok rentan. Ketidakpastian mengenai waktu kepulangan juga menyulitkan keluarga untuk merencanakan kehidupan sehari-hari.
Nasib Warga Masih Belum Pasti
Hingga Selasa (27/10/2026), operasi dan dampak kemanusiaannya masih menjadi perhatian internasional. Perbedaan angka pengungsian memperlihatkan bahwa jumlah warga terdampak berpotensi terus berubah selama pendataan berlangsung.
Ke depan, kepastian keselamatan warga, akses terhadap bantuan, dan kemungkinan mereka kembali ke rumah menjadi persoalan mendesak. Situasi di Hebron juga mempertegas pentingnya perlindungan warga sipil dan pemenuhan kebutuhan kemanusiaan di wilayah pendudukan.
Tanpa kepastian mengenai keamanan dan pemulihan akses, ribuan warga Palestina berisiko terus menghadapi ketidakpastian tempat tinggal, layanan dasar, serta keberlangsungan kehidupan keluarga mereka.

