Daerahku

Zakat 2026, Rukun Islam yang Kini Jadi Kekuatan Kemanusiaan Ratusan Miliar Dolar

Zakat 2026, Rukun Islam yang Kini Jadi Kekuatan Kemanusiaan Ratusan Miliar Dolar

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Zakat bukan lagi sekadar kewajiban pribadi. Di Ramadan 2026, instrumen filantropi Islam tertua di dunia ini tengah bertransformasi menjadi mesin kemanusiaan berskala global — dengan potensi dana yang, menurut para ahli, bisa melampaui ratusan miliar dolar jika dikelola secara optimal.

Organisasi sekaliber UNHCR, IRC, hingga IOM kini berlomba membuka kanal penerimaan zakat resmi. Satu pertanyaan besar pun mengemuka: sudah siapkah dunia memanfaatkan kekuatan zakat secara penuh?

Ramadan 2026 dan Kebangkitan Zakat Global

Ramadan 2026 — yang berlangsung dari pertengahan Februari hingga 18 Maret 2026 — menjadi titik puncak mobilisasi zakat di seluruh penjuru dunia.

Konteksnya tidak bisa diabaikan. Saat ini, lebih dari 120 juta jiwa tercatat hidup dalam kondisi pengungsian — angka tertinggi yang pernah ada dalam sejarah modern. Krisis kemanusiaan yang terus meluas ini justru memperbesar urgensi pengelolaan zakat yang serius.

Riset global mencatat bahwa total zakat yang dibayarkan umat Islam setiap tahunnya diperkirakan mencapai sekitar 600 miliar dolar AS. Di Amerika Serikat saja, komunitas Muslim menyumbangkan hampir 2 miliar dolar melalui zakat pada 2021.

Namun sebagian besar potensi itu, menurut para pakar, masih tercecer dan belum terkelola dengan baik. Inilah celah yang kini sedang diisi oleh lembaga-lembaga kemanusiaan bertaraf internasional.

Lembaga Global Berebut Kepercayaan Muzakki

UNHCR: Nol Potongan, 9,2 Juta Jiwa Terbantu

Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menjadi salah satu pionir terbesar dalam pengelolaan zakat global. Sepanjang paruh pertama 2025, Dana Zakat Pengungsi UNHCR berhasil mengumpulkan lebih dari 10,6 juta dolar AS, yang kemudian didistribusikan kepada hampir 350.000 penerima manfaat di 21 negara.

Sejak program ini diluncurkan pada 2017, total penerima manfaat telah mencapai lebih dari 9,2 juta jiwa di 33 negara. Kunci kepercayaan publik? Kebijakan tegas: 100 persen dana zakat langsung ke penerima, tanpa potongan administrasi. Program ini pun telah mendapatkan lebih dari 18 fatwa dari berbagai otoritas Islam di seluruh dunia.

IRC: Lembaga 90 Tahun yang Baru Menemukan Zakat

International Rescue Committee (IRC) mengambil langkah serupa, meski terbilang baru. Pada 2025, IRC untuk pertama kalinya meluncurkan program percontohan penerimaan zakat — sebuah terobosan besar bagi lembaga yang telah beroperasi lebih dari sembilan dekade.

Memasuki Ramadan 2026, program itu resmi diperluas. IRC terbuka mengakui bahwa melemahnya anggaran bantuan internasional dan perubahan arah kebijakan luar negeri negara-negara donor telah menciptakan kekosongan yang besar — dan zakat dipandang sebagai salah satu solusi paling realistis.

IOM: Dari Afghanistan hingga Yaman

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pun turut bergerak. Pada 2026, dana zakat yang masuk melalui IOM difokuskan untuk respons kemanusiaan di lima titik paling kritis: Afghanistan, Bangladesh, Gaza, Sudan, dan Yaman. Komitmennya sama — tidak ada satu sen pun yang terpotong untuk biaya operasional.

Wajah di Balik Statistik: Kisah Amina dari Sudan

Angka triliunan dolar dan jutaan penerima manfaat akan terasa kosong tanpa wajah nyata di baliknya.

Humaniti, mitra resmi UNHCR, menjalankan program bantuan tunai senilai 2 juta dolar selama dua tahun untuk pengungsi di Mesir dan Yordania. Dalam kunjungan lapangan yang dilakukan tim mereka, seorang ibu tiga anak asal Sudan bernama Amina berbagi pengalamannya secara langsung.

“Ketakutan terbesar saya adalah tidak mengetahui apakah saya bisa memenuhi kebutuhan dasar anak-anak saya,” tutur Amina. “Bantuan tunai ini membantu kami bertahan dari bulan ke bulan, tapi lebih dari itu, ia memberi saya harapan bahwa anak-anak saya masih bisa punya masa depan.”

Kesaksian seperti inilah yang terus mendorong lembaga-lembaga global untuk memperkuat standar transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan zakat.

Harga Emas Melesat, Nilai Zakat Ikut Naik

Bagi para muzakki — mereka yang wajib membayar zakat — Ramadan 2026 membawa perhitungan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Harga emas 24 karat di Uni Emirat Arab sempat menembus lebih dari 630 dirham per gram pada akhir Januari 2026. Angka ini bukan sekadar berita pasar — ia berdampak langsung pada kewajiban zakat. Sebab, zakat mal atas emas dihitung sebesar 2,5 persen dari nilai pasar terkini, sehingga lonjakan harga emas secara otomatis meningkatkan jumlah yang wajib dikeluarkan.

Kondisi ini mendorong semakin banyak muzakki beralih ke kalkulator zakat digital. Di Qatar, Kementerian Wakaf dan Urusan Agama bahkan telah memperbarui rasio zakat saham untuk 32 perusahaan yang melantai di Bursa Efek Qatar — lengkap dengan data terbaru yang dapat diakses melalui aplikasi resmi mereka.

Tantangan Terbesar: Bukan Dana, Tapi Data

Di balik potensi yang menggiurkan, ada satu hambatan yang jarang mendapat sorotan: krisis data.

Dr. Mohammed Obaidullah, ekonom Islam berbasis di Jakarta sekaligus penggagas Inisiatif Database Zakat Global, menyoroti masalah ini secara gamblang.

“Bukan hanya ada kesenjangan data — ini adalah kesenjangan kepercayaan. Dan kepercayaan adalah inti dari zakat,” tegasnya.

Menurutnya, selama ini diskusi tentang zakat terlalu didominasi oleh estimasi potensi yang ambisius, tanpa cukup perhatian pada pertanyaan mendasar: berapa yang benar-benar terkumpul, tersalurkan, dan berdampak nyata?

Inisiatifnya kini berupaya membangun basis data zakat global pertama yang terbuka, netral, dan terstandarisasi — menggandeng otoritas zakat nasional, lembaga riset, LSM internasional, dan mitra teknologi dari berbagai negara.

Zakat Foundation of America: 26 Juta Makanan dalam Satu Ramadan

Di Amerika Serikat, Zakat Foundation of America (ZFA) tampil sebagai salah satu motor penggerak terbesar. Lembaga yang berdiri sejak 2001 ini mencatat distribusi 26 juta makanan di seluruh dunia dalam satu musim Ramadan saja.

Baca juga : Ucapan Idul Fitri 2026, Sudah Bukan Zamannya Kirim Teks Biasa, Ini Tren yang Wajib Kamu Tahu

Untuk Ramadan 2026, ZFA menargetkan capaian yang lebih tinggi, dengan perhatian khusus pada keluarga yang terancam kelaparan katastrofik di Gaza dan Sudan — dua wilayah yang kini berada di ambang krisis pangan terparah.

Zakat di Era SDGs: Lebih dari Sekadar Sedekah

Temuan Akademis yang Mengubah Perspektif

Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Discover Sustainability (Springer Nature, Oktober 2025) memberikan argumen akademis yang kuat: zakat yang dikelola secara baik memiliki kapasitas nyata untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB — terutama target penghapusan kemiskinan ekstrem (SDG 1.1).

Riset tersebut merekomendasikan agar sistem zakat mulai diintegrasikan ke dalam kerangka kebijakan pengentasan kemiskinan nasional di negara-negara berpenduduk Muslim.

Instrumen Kebijakan, Bukan Hanya Amal

Inilah pergeseran paradigma yang paling signifikan: zakat tidak lagi dilihat semata-mata sebagai amal sosial, melainkan sebagai instrumen kebijakan ekonomi yang bisa beroperasi sejajar dengan program pemerintah maupun lembaga multilateral — asalkan dikelola dengan standar tata kelola yang setara.

Zakat: 14 Abad Usianya, Relevansinya Justru Makin Tajam

Zakat adalah rukun Islam ketiga. Ia lahir lebih dari 14 abad silam — jauh sebelum istilah “filantropi strategis” atau “impact investing” dikenal dunia.

Namun di tahun 2026, di tengah dana bantuan internasional yang menyusut, konflik yang tidak kunjung padam, dan angka pengungsian yang terus memecahkan rekor, zakat justru tampil sebagai salah satu harapan paling konkret bagi jutaan jiwa yang paling rentan.

Pertanyaan sesungguhnya bukan lagi apakah zakat relevan. Pertanyaannya adalah: apakah kita — sebagai umat, sebagai lembaga, sebagai bangsa — sudah cukup serius mengoptimalkan kekuatannya?

Donnydev

Donnydev

About Author

You may also like

Daerahku

Kementerian Pertahanan Tinjau Pembangunan Kawasan Perbatasan Di Kalbar

Kalimantan Barat, Teritorial. Com – Kementerian Pertahanan dalam hal ini Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan, pada tanggal 23 sampai dengan 25
Daerahku

Satgas Yonif PR 432 Kostrad Jaga perbatasan RI-PNG

Papua Barat, Teritorial.com- Prajurit Satgas Yonif PR 432, akhir november tiba desember awal langsung menempati jajaran pos sepanjang perbatasan sekotr