TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama Bank Indonesia resmi membuka gelaran “Saprahan Khatulistiwa 2026” yang berlangsung di kawasan Halaman Parkir Ayani Megamall pada Senin (4/5/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu agenda besar yang menggabungkan unsur pariwisata, penguatan ekonomi lokal, serta pemberdayaan pelaku usaha mikro di daerah.
Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson, hadir membuka acara tersebut sekaligus membacakan sambutan Gubernur Kalbar. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa tema tahun ini, yaitu “Mendorong Transformasi UMKM dan Pariwisata untuk Kalimantan Barat yang Berdaya Saing”, sangat penting dalam upaya meningkatkan daya saing daerah di tingkat nasional maupun internasional.
“UMKM harus didorong untuk naik kelas melalui inovasi produk, peningkatan kualitas, sertifikasi, penguatan branding, serta pemanfaatan teknologi digital. Begitu pula sektor pariwisata, harus dikelola secara lebih profesional, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tegas Harisson membacakan amanat Gubernur.
Penguatan UMKM, Budaya, dan Ekonomi Digital
Dalam laporan perkembangan ekonomi daerah, Kalimantan Barat menunjukkan tren positif. Berdasarkan data BPS Februari 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke wilayah ini mencapai 10.299 orang, mengalami kenaikan lebih dari 20 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini menjadi dorongan bagi pemerintah untuk memperkuat sektor pariwisata sebagai salah satu penopang ekonomi daerah.
Tradisi saprahan juga kembali diangkat sebagai simbol kebersamaan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Nilai gotong royong yang terkandung dalam budaya tersebut dinilai sejalan dengan upaya membangun sinergi lintas sektor di Kalbar.
Rangkaian kegiatan Saprahan Khatulistiwa 2026 tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menghadirkan program konkret. Di antaranya adalah fasilitas Pojok UMKM yang memberikan layanan pendampingan ekspor, pengurusan sertifikasi halal, hingga penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pelaku usaha. Selain itu, ditampilkan pula peluncuran desain baru Tenun Ikat Sintang sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomi produk lokal, serta kompetisi barista yang menjadi wadah kreativitas generasi muda di industri kopi.
Harisson menambahkan bahwa Saprahan bukan sekadar tradisi makan bersama, melainkan bentuk kebersamaan dalam membangun masa depan daerah yang lebih maju dan berkelanjutan.
Ekonomi Kalbar Tumbuh dan Digitalisasi Meningkat
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky Perdana Gozali, dalam kesempatan yang sama memberikan apresiasi terhadap perkembangan ekonomi Kalimantan Barat yang dinilai cukup kuat di tengah ketidakpastian global. Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kalbar pada 2025 mencapai 5,39 persen (year-on-year), meningkat dari tahun sebelumnya.
“Ini merupakan salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Kalimantan,” ungkap Ricky Perdana Gozali.
Ia juga menyoroti stabilitas inflasi yang relatif terkendali, yakni berada di angka 2,89 persen (yoy) pada Maret 2026, yang tercatat sebagai tingkat terendah di kawasan Kalimantan.
Dari sisi digitalisasi ekonomi, perkembangan transaksi non-tunai juga menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga Maret 2026, jumlah merchant QRIS di Kalbar telah mencapai 501.000 dengan lebih dari 804.000 pengguna aktif, serta volume transaksi mencapai 16,7 juta kali.
Menurutnya, mayoritas pelaku usaha yang terlibat dalam ekosistem QRIS berasal dari sektor usaha mikro dan kecil, yang menunjukkan bahwa digitalisasi telah menjangkau lapisan ekonomi paling bawah.
“Nilai Saprahan ini menjadi pengingat bahwa penguatan UMKM dan ekonomi Kalbar tidak dapat dilakukan sendiri. Pemerintah daerah, BI, perbankan, dan masyarakat harus duduk bersama menyusun langkah agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata,” pungkasnya.
Acara ini turut dihadiri berbagai unsur penting daerah, mulai dari Forkopimda, TP PKK Kalbar, Dekranasda, Konsulat Jenderal Malaysia di Pontianak, anggota DPD RI, hingga Wali Kota Pontianak, yang menandai kolaborasi lintas lembaga dalam penguatan ekonomi kreatif daerah.

